brnad

KENAPA BRAND HANYA MILIK PRODUSEN ?


Sekedar melintas dipikiranku dan aku tulis saja dengan judul yang mungkin tidak sesuai dengan isinya. Dan karena judul tulisan ini berupa pertanyaan , maka tentu saja jawabannya adalah TIDAK … atau setidaknya TIDAK HARUS DEMIKIAN. Brand memang milik produsen namun yang sering dilupakan adalah bahwa seorang tenaga penjual atau seller atau marketing juga wajib memiliki brand sendiri. Dan kebanyakan para penjual (lepas) produk selalu menggunakan namanya sebagai brand ( kebanyakan : dibaca tidak semua ) dan itu tidak salah alias sah-sah saja.

Maraknya sistem reseller dan dropshipper membuat sebuah brand industri dan produk berkembang sangat cepat apalagi saat ini ditunjang perkembangan sarana informasi yang semakin mudah di akses. Siapa saja bisa melakukan penjualan produk hanya dengan menjadi agen / reseller / distributor nya. Dan secara otomatis mereka ( bahkan saya ) memberi gelar “<Nama Anda> Agen **** “ yang sekali lagi “memperkuat brand” tersebut, dan sekali lagi itu sah-sah saja dan memang pakemnya demikian, namun sayangnya jika hal itu yang dilakukan maka menurut saya ada hal yang terlupakan (akan saya ulas di bagian belakang tulisan ini).

brnad

MUNDUR SEJENAK

Obrolan hari kemarinlah yang membuat aku ingin menulis ini …

Teman : Bro, logo mu apik … iyo yo, kudune due logo dewe jah … ( Bro, logo mu bagus … iya ya, harusnya aku juga punya logo sendiri )

aku tidak ingin merespon soal harus atau tidaknya, sebagian orang tentu saja tidak akan suka mendengarkan itu dan aku hanya merespon soal bentuk logonya saja …

Aku : Hehehe, le nggawe mung dilit … pas lagi iseng wae . ( Hehehe, membuatnya hanya sebentar … pas lagi iseng saja.)

dan seterusnya ….

BIG PLAN NYA ADALAH

Sebelum masuk ke big plan nya, aku tulis urutannya :

I. Buat sebuah nama ( termasuk logonya kalau memungkinkan ), tentu saja ini belum dikategorikan sebagai brand (setidaknya saat ini). Lazimnya sebuah industri melarang kita menggunakan logonya dan mengatasnamakan diri kita karena berpotensi penyalahgunaan. Dilapangan ini seringkali menyulitkan kita dalam melakukan pemasaran … namun postifnya adalah kita memiliki peluang “menebar sugesti” logo kita sendiri, itulah kenapa saya bilang perlu untuk membuat logo sendiri.

II. Cari produk-produk dan brand yang kredible dan masuklah dalam sistemnya, bisa dengan menjadi agen / distributor atau sebutan lainnya ), penting untuk memilih industri yang kuat karena :

  • memberi kita banyak waktu dan reputasi,
  • sistem yang sudah terbentuk, dan
  • tentu saja pemasaran yang lebih mudah.

III. Mulailah menjual dan bentuk jaringan (baca jaringan pemasaran), itulah kenapa saya lebih memilih sistem networking , dan sekali lagi harus yang kredible dan kuat (alasannya ada di nomor 2 diatas).

Permasalaha pro kontra sistem networking tidak akan saya bahas.

IV. Tanpa disadari saat kita mati-matian berjualan, kita juga membuat jaringan pemasaran kita dan bonusnya nama dan logo kita pun telah mulai “bergentayangan”.

HAL YANG DILUPAKAN

Sesuai janji saya di awal untuk mengulas tentang “hal yang dilupakan”, maka di sub ini saya akan mengurai sedikit tentang hal itu. Sering kali karena terbuai oleh asyiknya memasarkan dan keuntungan yang terlihat membuat kita langsung  mengambil langka dari nomor 2 ( dua ) dan melupakan hal sederhana, yaitu membuat nama sendiri plus  logonya.

Hal yang sangat lazim saat ini adalah sebuah industri atau brand datang dan pergi begitu saja,

  • muncul …
  • berkembang menjadi besar… dan
  • kemudian hilang begitu saja.

Dan jika kita memulainya langsung di nomor 2 ( dua ) dan melupakan nomor 1 (satu ) nya, maka kita pun bisa ikut “hilang” saat sebuah industri dan brand yang kita ikuti juga menghilang atau hanya sekedar merubah sistem pemasarannya, padahal jaringan pemasaran kita yang sudah dibuat sebelumnya semestinya masih merupakan modal yang memiliki potensi yang luar biasa … masih merupakan aset berharga dan memiliki kekuatan pengalaman didalamnya.

brand-adalah-pengalaman

gambar diambil dari : brawnycode.com

 

 

dan menjadi tidak berarti dan bukan apa-apa ketika kita tidak memiliki “nama atau brand sendiri”.

kalau bapak ku dulu bilang “Jeneng sik … jenange nyusul”

Note :

  • Tulisan ini hanya omong kosong pribadi (no debate) … dan tidak berlaku bagi yang ingin memproduksi produk dan langsung memasarkannya dengan membentuk jaringan pemasaran dari awal.
  • Tulisan ini jika dibaca seolah berbau ketidakloyalitasan, terpaksa harus saya jabarkan agar tulisan ini mudah dipahami, hihihi

Duh … lagi-lagi membuat aku ingin kuliah di kampus bergengsi … namun tetap saja tidak ingin di ruang kelasnya , hanya di kantinnya saja .. :D

Tinggalkan balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s