Percakapan Ndeso Yang Mengejutkan


Hari ini berkumpul dengan beberapa teman lama di kampung…dan tidak berhenti di rumah teman ku saja tapi kita bersama-sama berkunjung ke tetua lereng gunung tempat biasa nge-camp dulu…yah itung-itung suasana lebaran.

Ada yang menarik ketika kami ngobrol-ngobrol dengan sang bapak…sebut saja S.
Ketika seorang temen bertanya sama sang bapak di tengah obrolan santai itu…kira-kira obrolan nya begini :

Temenku : Sekarang B (anak sang bapak) kuliah dimana pak?

Bapak : Kuliah di semarang…di undip

Temenku : Ohh…akhirnya dulu jadi ndaftar di semarang tho…padahal dulu sempet ga mau kuliah katanya, sambil nyengir temenku itu

Bapak : Iya…bapak ngga mau membiayai kuliahnya…

Temenku : loh…kenapa begitu pak?

Bapak : dulu bapak tanyai…setelah kuliah trus mau apa? katanya mau kerja di perusahaan…ya aku ngga mau membiayai kalau kuliah hanya untuk jadi “kacung” di perusahaan orang…
Ntar susah payah bapak membiayai sampai harus jual-jual sawah hanya mau jadi babu..kata sang bapak.

Temenku : itu kan juga baik pak…kenapa ngga boleh?

Bapak : ya ngga baik lah…baik mananya coba? aku tanya mau kerja diperusahaan asing atau perusahaan nasional? di Indonesia atau di luar negeri? jawabnya anakku mau di perusahaan asing yang di Indonesia…tambah males bapak membiayai kuliahnya..kata sang bapak kliatan agak kesal.

Temenku : nah itu bukankah lebih baik lagi pak?

Bapak : wahhh…bukannya aku anti bangsa asing ya nak…aku sebenernya berharap anakku kalau kuliah dengan cita-cita jadi juragan…kecil ngga papa, kalau hanya mau mbabu…ya bayar kuliah saja sendiri…atau setidaknya kerja di luar negeri trus duitnya di kirim ke Indonesia… setidaknya memberi pemasukan buat negara…dari pada kerja untuk orang lain dan duitnya justru dikirim ke luar dan negara ini cuma dapat sisa polusi dan sampahnya thok…
Bapak itu melanjutkan lagi kata-katanya lagi

Bapak : nak..bapak mau tanya, memangnya kuliah itu untuk apa? untuk penemuan baru..atau untuk menciptakan lapangan kerja baru? atau sekedar untuk bekerja di perusahaan orang? Kecil-kecil gini bapak juragan…dan diajarkan untuk berjiwa pemimpin..
bla…bla…bla…sebelum akhirnya kami pamit pulang.

Aku terkesan dengan perkataan sang bapak yang hidup dilereng gunung dan hidup sederhana dengan wawasannya tersebut…

Percakapan diatas dilakukan dengan bahasa jawa khas lereng pegunungan di lincak depan rumah dengan sarung yang juga khas dipakai masyarakat lereng gunung…

Percakapan tersebut tidak sama persis seperti di atas…namun menyiratkan wawasan sang bapak.

Salut..
:)

Tinggalkan balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s